Archive

Uncategorized

Sebenarnya sekitar bulan november lalu saya putuskan untuk resmi pindah ke blog ini, terhitung sejak 8 Oktober blog ini dibuat. kalo ditotal-total umur blog ini baru genap 3 bulan. Jadi 3 bulan itu kalo umpama manusia, saya blog ini masih unyu-unyu nya lah ool: , kayak bayi yang baru bisa ngomong tapi gak jelas ngomongnya apa, sama seperti saya, yang baru bisa nulis tapi gak jelas nulisnya apa :). Nah, bagaimana menurut anda apakah saya ini sudah unyu? :mrgreen:

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2,300 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 4 years to get that many views.

Click here to see the complete report.

Advertisements

Nelayan - karir primitif masa kini. Jarang sekali seorang muda yang mau menyelami diri menjadi seorang nelayan. Pikir mereka pekerjaan ini tak pantas, rasional yang irrasional, hanya cocok untuk golongan tua kolot yang belum modern. Mana mau orang tua sekarang yang mau menantu seorang nelayan. Lebih baik menjadi nelayan yang elit, memilih kapal luar dengan visa dan paspor, daripada sebuah kapal jukung kuno yang primitif; pilih mereka menjadi buruh kapitalis asing itu mungkin sedikit lebih elitis dan lebih baik. Terjebak gagasan konvesional sebagai rumus metematik kehidupan, semakin jauh dari rumah halaman semakin besar upeti yang didapat. Padahal berbulan-bulan memanen ikan di laut membuat mereka buas jika sudah tiba di daratan. Mencari semacam hiburan balas dendam akibat penjara kapal berbulan-bulan. Jangan salahkan mereka jika 3-4 hari uang hasil keringat mereka sudah habis demi kepuasaan duniawi sesaat. Nelayan Marjinal - Melawan pagi tanpa dermaga, bisu disisi kemudi, menjadi lakon penting di bawah bayang layar kecil. Apatis, tapi tetap permisif kepada ferry besar bemesin yang melintas di antara Jawa dan Bali. Tapi sepertinya itu tak jadi soal selama bisa mengemis rezeki, demi pulang lalu  mencukupi gizi anak istri. Read More