Archive

ngaji


Pernahkah Anda menulis untuk kemaslahatan umat? Kalau belum, ingat! ukhuwah itu penting. Karena sia-sia saja jika anda egois, sekedar menulis catatan harian, curhat, cerpen, puisi atau sekedar riwayat jalan-jalan yang tak banyak memberi khasiat itu. Jadi, bukankah lebih baik, jika anda yang  budiman ini mau menulis sesuatu yang mampu memberi banyak kemaslahatan untuk umat,

Barangkali Anda memang sudah ingin menulisnya tapi disisi lain Anda merasa tidak terlalu cerdas, merasa tidak kompeten sepertinya—karena tanggung jawabnya yang besar. Tapi jangan menyerah, ketika anda harus dibuat susah atau bingung, pasti selalu ada jalan keluar. Niscaya anda mendapat balasan atau kemaslahatan yang lebih besar.

Jadi, seperti apa menulis untuk kemaslahatan umat itu, sebaiknya anda ikuti uraian penjelasan berikut!

Read More

Tadinya saya sedikit (banyak) ragu untuk membuat posting ini karena pasti akan dianggap nyeleneh, ya saya sendiri memang tertarik karena gara-gara nyelenehnya itu –mudah-mudahan saya tidak terlalu musrik. Dalam hal ini memang ada resiko. Jika hanya dilihat dari salah satu sudut pandang agama saja pasti ihwal ini akan menimbulkan resah. Bagaimana tidak, orang awam yang tidak beriman –atau yang mengaku beriman– pun pasti akan resah jika kiranya mendengar Shalawat Nabi dengan lagu “Shalom Aleichem”–sebuah lagu rohani yang sering dinyanyikan orang Yahudi ketika jum’at malam pada awal sabat– dipadu-kawinkan dalam sebuah alunan gamelan yang
Read More

Sebenarnya ini sekedarnya saja, menyoal masalah yang sederhana pula. Gegara saya sudah tidak tahan lagi akan nafsu ini untuk lekas menindak lanjut kolom komentar di postingan mas 9enthuk kemarin untuk dibuat bahan postingan pula, supaya gak setengah-setengah barangkali 🙂

Nah. Agama itu seringkali dipandang sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia. Sehingga pasti ritual ibadah yang kita jalankan selama ini semata-mata karena Tuhan, untuk memenuhi aturan-Nya sebagai bentuk bukti bahwa kita manusia yang benar beragama. Jadi begini, entah apa ada yang salah tentang pola pikir atau memang saya salah menimba ilmu sedari kecil, mendapat pendidikan agama yang keras dan kaku selama di sekolah maupun di TPA tempat saya dulu mengaji, seperti ketika kita masih seorang anak-anak yang sudah banyak sekali diberi mandat dengan hafal-menghafal berbagai macam do’a versi bahasa Arab. Atau juga sering kita menjadi korban doktrin tentang siksa kubur dan api neraka yang membuat kita berasa horror barangkali. Membuat anggapan bahwa agama itu sebagai hukum yang mengancam jika kalo kita khilaf berbuat salah supaya kita takut dan lekas beriman, itu boleh jadi.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:`Rabb kami ialah Allah` kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): `Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu`- (QS: Fushshilat Ayat: 30)

Karena dasarnya kita memang sudah takut, barangkali ketika kita disodori pertanyaan “Kenapa kita harus takut kepada Allah SWT?” mungkin kita mudah saja menjawab secara eksplisit, atau tidak perlu pula memberi jawaban, agak retoris, seperti pertanyaan yang bukan untuk dijawab, sudah jelas berdasar pemahaman yang sudah melekat lama dalam otak, menyoal alasan kenapa kita harus takut. Tinggal sorot balik saja dengan apa yang dulu sudah umum diajarkan di bangku sekolah atau dengan apa yang banyak kita dengar dari ustad-ustad di setiap ceramah.

Nah
Read More