Unek-unek Untuk Selebtwit(is)

[edited]

Permisi permisi…

Ini saya ada sedikit unek-unek, unek-unek ini sebenarnya sudah lama mengendap di kepala. Saya ndak tahu, kalo unek-unek saya ini nanti malah seperti curhatan atau malah seperti sedang nyinyir.

Manusiawi kalo manusia itu punya unek-unek, kalo ndak punya unek-unek berarti bukan manusia, yang ada hanya manusia yang tinggal badan, tanpa ada nyawa. Karena manusia itu selalu rentan sama yang namanya masalah, mestinya ada unek-unek, nah biar sehat maka dianjurkanlah untuk segera mengeluarkan unek-uneknya, singkatnya saya ini mau curhat atau nyinyir soal unek-unek saya πŸ˜†

Jadi langsung saja, unek-unek saya soal selebtwit. Jadi selebtwit ini kadang sering curhat sama saya, juga sama orang-orang yang jadi pengikutnya. Singkat cerita saya terkagum-kagum, saya merasa ter-enyuh, curhat dari si selebtwit ini cenderung universal,

apalagi kalo sudah soal asmara, curhatannya bisa bikin orang galau tingkat nasional. Entah apanya yang salah dengan curhat mereka, tapi yang jelas metode aneh ini sering dipraktekkan dan sukses menjadi pusat perhatian.

Kalo boleh saya suudzon, kalo diamati lagi selebtwit ini sepertinya tidak punya sahabat atau orang yang bisa dikasih kepercayaan menjadi tempat sampah unek-unek masalah pribadi mereka. Ssetiap masalahnya selalu dibuang semena-mena di atas temlen. Barangkali apa saya yang memang kuper, kalo sekarang itu bercerita (alias curhat alias nyinyir) di temlen sudah jadi budaya. Sekiranya cerita itu ada potensi retweet-able, cerita ini wajib dibagi-bagi. Seperti selebtwit kebanyakan, mereka mempunyai bakat menulis yang mumpuni untuk bercerita, tentunya cerita fiksi dengan gejala-gejala yang sangat nyinyir πŸ˜†

Saya juga herman sama puluhan ribu orang-orang yang menjadi pengikut para selebtwit ini. Mengapa sekarang orang menjadi seperti wajib untuk mengikuti—following—para selebtwittis untuk sekedar bisa eksis di ranah per-twitter-an?

Memang sebelumnya pokok masalah ini ada pada si selebtwit itu sendiri, mungkin pandangan banyak orang jika diperjelas secara lebih radikal selebtwit itu sebenarnya adalah seperti begini:

Seseorang yang dijadikan “panutan”, contoh dan uswatun hasanah bagi setiap umat yang sudah modern untuk bertingkah laku—berkicau—di ranah pertwitteran (wuihh bahasanya…). Seperti idola—bak seorang nabi sesat, selebtwittis menjadi sosok suri teladan yang baik bagi setiap pengikutnya. Apapun yang dikicaukan oleh selebtwit akan dijadikan patokan atau bahkan sarana bagi para pengikutnya untuk mengindentufikasi diri ke dunia pertwitteran dengan mengadopsi atau kita biasa menyebutnya “me-retweet” kicauan selebtwittis yang dianut oleh tiap-tiap pengikutnya.

Selebtwit ini bisa siapa saja, tidak harus selebritis artis aseli papan atas, karena di ranah pertwitteran sendiri setiap orang berhak berlomba-lomba untuk dapat tampil sebagai seorang selebtwit(is).

Nah, karena semua orang di twitter itu punya hak yang sama kemudian selebtwit ini mulai diadopsi sebagai suatu cara cepat agar dapat lebih mudah, cepat, hemat dan murah untuk menjadi terkenal, atau menjadi pusat perhatian.

Ya kira-kira begitulah, akhirnya semakin banyak orang latah menjadi pengikut para selebtwit, para selebtwit ini dianggap sebagai sumber inspirasi. Dan jangan heran juga, kalo nyinyir akhirnya ikut membudaya, ini juga imbas dari trend-latah gaya para selebtwit itu sendiri.

Unek-unek saya yang kedua adalah, selebtwit itu selalu suka mengkritik tapi dirinya sendiri anti-kritik. Ini pernah juga dicurhatkan oleh salah satu akun yang kesal. Ya intinya begitu, kebanyakan selebtwit memang anti untuk dikritik.

Yang paling membuat kesal ya itu tadi, saat kita sedang melontarkan suatu kritikan pada si selebtwit, si selebtwit ini lagi-lagi menjadi “kompor pemanas”, kita yang hamya orang kecil di twitter bagai menghujat seorang nabi. Dukungan masal dimana-mana, bahkan semua pengikut selebtwit ini bisa saja lebih beringas lagi untuk membalas kritikan si pengkritik.

Memang untuk kasus mereka yang sudah tingkat fanatik, ada ikatan emosional dan tanpa kritik antara pengikut dan selebtwit itu sendiri. Dalam diri si pengikut ikatan itu timbul karena ada perasaan si selebtwit ini “Aku Banget…” lalu selebtwit menjadi identifikasi pribadi diri mereka terhadap segala sesuatu yang ada di ranah per-twitter-an. Hingga akhirnya berubah menjadi suatu keyakinan, nah keyakinan itulah yang membuat para pengikut ini kadang menjadi lebih tampak beringas terhadap musuh-musuh yang mengkritik seleb mereka. Mengkritik selebtwit sama saja mengkritik mereka, mereka dan mereka.

Ya kira-kira begitulah, saya teringat kata-kata Pak Mahmud “Inilah buah dari reformasi, semua orang bebas kritik nyinyir sana-sini”. Termasuk selebtwit dan saya sendiri πŸ˜†




P.S. ; Ini sentimen pribadi untuk para selebtwit,—baik yang anonim maupun yang tidak—, jadi selamat mengkriktik dan selamat menerima kritikan, dan yang merasa bukan seleb mohon untuk tidak ge’er.

Advertisements
20 comments
  1. Saya jarang atau bahkan enggak pernah follow akun seleb di twitter itu sih, jadi enggak pernah ngerasa gerah dan panas, tapi membaca unek2 kakak saya jadi sedikit antipati untuk follow seleb-seleb twitter… hahahaha.

  2. Santai aja, mas, gak perlu ikut gerah. Mereka ada cara (baca: bersandiwara) untuk bisa tetap eksis sbg seleb maya yg fana. Saya bilang “fana” krn jenis socmed itu ada masanya. Nanti kalo ada teknologi baru, maka twitter bisa ditinggalkan, spt fesbuk yg mati pelan-pelan. Dulu booming banget budaya nge-friendster, akhirnya mati juga.

    Yang penting kita yg bukan seleb ini fokus membangun sesuatu yg bermanfaat di dunia nyata.

  3. nyinyiran ala 140 karakter..
    tapi bisa jadi ‘isu’ nasional.. ngaruh ke kebijakan2.. hoho

  4. niprita said:

    Hahaha, saya suka kata-kata terakhirnya, “yang merasa bukan seleb mohon untuk tidak ge’er.”
    Saya ge er gak yah….

  5. Ketemu juga istilah selebtwit disini, setelah banyak seliweran di lini masa saya…
    Gak jelas juga apa sebenarnya selebtwit itu. Apakah seseorang yg akun twitternya mempunyai follower 1000 akun boleh dibilang selebtwit? Setidaknya itu yg pernah di cuit kan saya dan teman2 twitter sekian waktu lalu.

    Saya sendiri pernah kecanduan twitter walau sekarang sudah mulai berkurang aktifitas ngetwit saya. Dan saya tetap akun pribadi yang non selebtwit…hehehe

    Salam,

    • Ely Meyer said:

      sepakat nih, selebtwit itu apa sih ? πŸ™„

  6. ~Ra said:

    Nggak ngerti aku, nggak paham aku..

    πŸ˜€

  7. Belum tentu di timeline itu kisah nyata mereka loh…. Bisa2 itu hanyalah imajinasi. Namun, beberapa dari mereka realita.

    Dulu, kita sibuk mencari berita. Kini, kita harus rajin dan pandai menyaring berita. Itu buah demograsi dan liberalisasi.

  8. Raf said:

    Well, I don’t tweet any shit. Who cares what everyone write/share/like? Just keep the traffic coming. That’s it. It’s the whole point of social media business, isn’t it? And when the capitalist find their potential target like these people who get this false sense of achievement when they acquire certain number of followers/RT/like for every crappy things they say,and those teen hipsters who get infected with this follow/RT/like-rabies, the capitalist shall exploit it even more. Voila! Retarded culture grows fast.

  9. yisha said:

    yisha masih ngga punya twitter…….

  10. Maaf baru bisa balas, kemarin2 yang punya blog sedang agak sibuk dengan kepentingannya yang lain πŸ™‚

    @Benedikta Sekar
    Iya dek, saya juga kapok, ndak lagi, saya khilaf πŸ˜€

    @Pak Iwan
    Saya sekarang malah lebih suka buka fb pak, di fb orang2nya ndak secerewet kayak di twitter πŸ˜†

    Lebih baik lagi kalo kita yang bukan seleb ini semakin narsis untuk menjadi seleb, seleb yang fokus membangun yang bermanfaat πŸ˜†

    @matahari_terbit
    Sebentar saya hitung ,140 karakter dikali nyinyiran penduduk Indonesia, hasilnya :mrgreen:

    @nyonyasepatu
    Lho, bukanya mbak ini selebtwit juga πŸ˜†

    @niprita
    Hehehe udah mbak, udah, udah jangan narsis :mrgreen:

    @Mas Iwan
    Sambil gedek-gedek pantat πŸ˜€

    @Titik Asa
    Hehe bisa ribuan, sampai puluhan ribu pak, sampai ratusan ribu juga ada, nah kalo yang udah jutaan itu seleb yang beneran pak. Hehe

    @mbak eL
    Itu mbak yang di blockquote ,hehe

    @mb Ra
    yawis mbak rapopo ndak usah dipekso πŸ˜›

    @Pak Lambang
    Iya pak, kebanyakan mmang ada bakat untuk begitu, tapi ya gitu, seolah-seolah cerita itu selalu cerita tentang diri mereka, kalo mereka narsis tapi cuman fiksi kan ndak baik juga pak, kayak misalny gini, ” Repot, orang saya ganteng dibilang narsis, padahal ini realitis” haha@ btw tulisan ini sempat saya edit sedikit pak.

    @Raf
    *Huwa.. Buka-buka kamus*
    Coba saya balas sebisanya, (maklum toefl saya ancur mas) :mrgreen:

    Em, okay okay, I know I know, ya memang I see itu seleb bukan lagi sebatas status atau cuman panutan saja mas but juga sudah seperti karir. Gara2 seleb yang rata-rata terlihat intelek dgn 140nya itu, sekarang orang ndak usah busy-busy lagi buat banyak belajar dr buku2 yg tebelnya naudzubillah.. Gara2 twitter jg orang sekarang biasa berpikir 140 karekter, gak mau pikir panjang-panjang, pikirannya singkat mulu. Ya kira2 begitulah…

    Ah, sudah saya bilang toefl saya ini ancur, puas atau tidak jwabannya salahkan yang punya komentar :mrgreen:

    @yisha
    cepet beli mbak, nanti ndak eksis lho πŸ˜›

  11. Raf said:

    Saya sih setuju aja kalo tiap orang berhak memilih jadi apa yg ia mau, jadi pecundang, blogger, selebtwit, atau bahkan motivator sekaliber Mario Teguh. Tiap orang punya kavling idupnya masing-masing, kan? Tapi maaf, saya tak memilih jadi selebtwit. Ada dunia nyata diluar sana yg mesti saya hidupi πŸ™‚ Mungkin perspektif saya senada dengan tulisan Mbak Tarlen berikut: http://www.vitarlenology.blogspot.com/2009/06/merumuskan-kembali-keterhubungan-maya.html?m=1

  12. teeeenang bro,,, saya ga gitu kok… jd tetap pantau temlen saya yaaah.. Reply yang kamu peroleh, langsung dari akun saya *eaaaa *selebwannabe* ^0^

  13. @raf
    Demikian juga sama saya :), saya tidak masalah orang mau berkicau seperti apa, sebenarnya memang tidak ada yang salah dengan berkicau, walaupun kita tahu kicauan itu cuman lah sampah, dalam twit, kita selalu menghadirkan perasaan “tidak sempurna” karena kita tak sempat bersuara didunia nyata. Sampah, seolah2 twitter sanggup mengubah nasib manusia. (wuih… Filsuf banget) :mrgreen:

    Btw tulisannya mbak tarlen ini lebih narsis daripada semua jiwa yang ada di twitter mas πŸ˜€

    @Bu Raya
    huwaaaah, aku di mensyen selebtwit, aku kudu piye iki????
    ah, kendat kendat… :mrgreen:

  14. arip said:

    Sah-sah aja emang punya selebtwit idola, asal jgn sampe mengkultuskan segala. πŸ˜€

  15. Ely Meyer said:

    Selebtwit itu apa sih *ndeso aku ya* πŸ˜›

  16. istimewa bro wkwk, post anda termasuk retweet-able juga nih. ada potensi jadi seleblog

    • ah, janganlah, saya takut tenar πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: