Esensi Manusia Sebagai Makhluk Pengupil

foto : tololpedia.wikia.com

Awali bangun tidur dengan upilan, seberat apapun masalah yang kamu hadapi, mengupil memberi aura positif untuk menjadikan hidup lebih baik – @tangpio

Seklumit motivasi super epic dari sosok yang bijak, yang tau kapan dan momen yang tepat untuk mengupil.

Tesis saya definisi manusia adalah hewan yang mengupil, esensi yang melekat pada manusia sebagai warisan budaya sepanjang peradaban umat manusia. Membedakan manusia dengan subyek-subyek lain dalam satu genus bernama hewan.
Menjadikan mengupil sebagai esensi-esensi yang dimililki manusia yang tidak dimiliki makhluk hidup yang sifatnya lebih umum. Konkritnya mengupil itu manusiawi.

Upil, sebuah reward yang akan kita dapatkan sebagai bentuk kerja keras kita memanfaatkan sumber daya alam dalam eksplorasi hidung umat manusia. Berbentuk butiran kristal, dengan model yang variatif antara pipih, memanjang sampai bulat simetris. Tekstur relatif menyesuaikan kondisi kesehatan antara padat, keras, lembek, dan cair. Cair, ya cair, itu terkontaminasi ingus.

Karl Marx, agama adalah candu masyarakat. Begitu pula dengan upil, upil adalah candu. Fenomena candu yang lebih menyenangkan dari sekedar rutinitas masturbasi jomblo mainstream kebanyakan. Mengupil itu tentang kebebasan, bagamana orang bebas berekspresi tanpa melihat situasi kondisi toleransi. Dimana, kapan, dengan siapa, bebas..!. Sengaja atau tidak, terkadang manusia memang suka ngupil sembarangan.

Mengupil itu multitasking, saat dua pekerjaan dilakukan bersama-sama. Sembari buang hajat orang mengupil, menonton tv orang mengupil, ngobrol rame orang mengupil, menulis ini pun saya sering mengupil. Sungguh-sungguh multitasking tanpa kita sadari atau tidak.

Stereotip orang tentang upil selalu minor, orang yang kegep mengupil selalu dicap jorok. Padahal orang yang mengupil secara intens sudah jelas menggambarkan betapa higienisnya orang tersebut. Menjaga lubang hidung tetap steril, meminimalisir resiko berbagai penyakit. Dan hasil penelitian pun mengungkapkan jika dalam jangka panjang seorang manusia tidak ngupil maka dia akan rentan terhadap penyakit (ini saya kutip dari tololpedia.wikia.com).

Mengupil berarti melatih sensitivitas jari-jari tangan manusia, idealnya jari kelingking. Tapi tidak menutup kemungkinan menggunakan jari-jari yang lain, cukup disesuaikan. Mengupil membantu meningkatkan kecerdasan motorik, otak dipaksa berfikir keras untuk memetakan lapisan sedimen dalam hidung agar pergerakan jari lebih terarah dan efektif menjangkau target sasaran. Seperti yang telah sama-sama kita tahu bahwa kecerdasan motorik yang baik dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang di masa depan.

Sungguh takjub akan distribusi upil terhadap manusia. Dengan ukuran yang kecil upil memberi manfaat dalam skala yang besar, hampir mencangkup semua aspek pola hidup umat manusia. Wejangan dari upil yang saya tangkap disini adalah, kita jangan lagi suka menjudge orang, apalagi orang yang belum kenal. Belajarlah dari filosofi upil, “meskipun awalnya upil terlihat minor dan jorok, tapi sesungguhnya upil benar-benar enak, menyenangkan dan  sungguh sangat bermanfaat.”

Tulisan ini hanya sebuah retorika, saya hanya mencurahkan fenomologi upil dari perspektif yang berbeda, mencoba menggali hikmah dari pengalaman pribadi terkait kebisaan ngupil saya sehari-hari. Semoga bisa menjadi renungan. 🙂

Referensi :
http://tolololpedia.wikia.com/wiki/Upil
Kompasiana : Upil dan Kentut!
Komeng-komeng Kaskuser.

Advertisements
24 comments
  1. erickryan said:

    puuh kereng arek e saiki…

    • onkyreno said:

      wah, asem, gegoro mas tirimu iki, fikih haha

    • ah, iya pak barangkali, ngupil juga kaya surga duniawi… 🙂

      • Hahaha…. sepakat.

  2. Ely Meyer said:

    wow .. ternyata msh ada sambungannya tho ttg ngupil ?

    • hehe ini sebenarnya posting di blog saya yang dulu mbak, edisi repost juga sebenarnya 🙂

  3. zasseka said:

    nek ngupil kue enak e mbe merem2 sisan :v

    • wah iyo mas, cek soule oleh, latian penjiwaan :mrgreen:

      • zasseka said:

        hahahaha…
        bener banget kue :v

      • -_-
        takjub ada orng yg bahas upil sedemikian serius dan panjangnya sampai gini. ckckckck… upilisme ternyata nyata ada. hahahaa

      • ah, hahaha upil ini benar inspiratif mbak*ya begini ni kalo keenakan ngupil* :mrgreen:..
        kalo pun ada upilusme saya mau nyalon jd nabinya mbak, penyebar ajarannya gitu maksudnya.. hahaha

    • ah iya mas, sebenarnya ini peluang sih, tinggal kasih kemasan udah punya nilai jual, :mrgreen:

  4. 9ethuk said:

    Boleh ngupil disin tak?
    Ehmm, mau ambilin upilku gak ?
    *plak,..

  5. Curcol# waktu beli jambu biji di pinggir jalan
    pembeli : apa? jambu segede upil gini seribu, Pak?
    penjual : kalau upil sampeyan segede jambu ini, saya beli seratus ribu!

    😆

      • Wah! Itu masih kurang 😛
        kalau berminat, saya kumpulin dulu nanti saya satuin jadi segede itu, wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: