Ngupil dan Ruang Angkot yang Disonan

Disonansi Kognitif

Nah, sebelumnya saya ingin berucap terima kasih atas postingan Mas Gentole yang sedikit banyak telah mengcerahkan :).

Oke jadi begini, entah kenapa lagi-lagi upil yang menjadi topik bahasan. Saya juga bukan seorang ahli atau pakar dalam bidang perupilan, tapi menurut saya upil itu epic, kaya esensi penuh sensasi. Disini saya mencoba mengamati fenomonelogi dari kebiasaan ngupil yang disonan, timbul karena efek psikologis.

Nah, Pernahkah Anda merasa seperti perang batin, merasa dilematis, bingung mengambil sikap antara dua pikiran yang berbeda? Misal situasinya gini,

misal anda lagi berada di angkot/line ibukota dengan formasi full penumpang tujuh-empat dua bandar, penuh sesak bercampur berbagai racikan aroma nusantara. Biar lebih dramatis setting angkot dibuat keluaran tahun 90″an, suara mesin tak lagi garang, alas dudukpun asal-asalan, empuk nggak tepos iya, yah pokoknya bayangkan anda ini sudah berada dalam dimensi ruang yang tidak mengenakan gitu, misalkan. Terus di waktu yang sama tiba-tiba anda ini pengen ngupil, ngidam gitu ceritanya, alih-alih membunuh rasa bosan. Hasrat ngupil kadang menjadi tindakan yang immoral jika dilakukan di sembarang tempat, menjadi aib. Sungguh kontradiktif bukan, ketika anda ingin ngupil tapi tidak pada waktu yang tepat.

Perasaan anda barangkali menjadi tidak nyaman akibat dua pikiran yang berbeda, anda ini merasa terbebani. Merasa sangat bingung karena ada sesuatu yang ingin dilepas—ingin ngupil—tapi anda bersikeras mempertahankan etika—bahwa ngupil di keramaian = aib—sebagai sesuatu yang kamu yakini. Keadaan ini disebut sebagai disonansi kognitif, Wibowo (dalam Sarwono, S.W., 2009) mendefinisikannya sebagai keadaan tidak nyaman akibat adanya ketidaksesuaian antara dua sikap atau lebih serta antara sikap dan tingkah laku. Menjadikan orang dalam situasi dilematis, galau, bahkan merasa depresi. Tapi depresi gara-gara upil sepertinya berlebihan, tapi anggaplah seperti itu.

Bersikeras mempertahankan keduanya antara sikap dan keyakinan benar-benar terasa menyiksa. Untuk mengatasi disonansi ini sebenarnya ada beberapa solusi, anda hanya perlu mengurangi atau menambah keyakinan. Seperti ubah perspektif anda bahwa ngupil itu manusiawi, bahwa manusia itu hewan pengupil, semua orang berhak ngupil, dimana atau kapan saja. wong sama-sama manusia kok, kan manusiawi, yang gak suka berarti bukan manusia. Jadi buang jauh-jauh asumsi ngupil banyak orang itu aib. Kedua, hilangkanlah kebiasaan ngupil. Ehm.. untuk opsi yang ini saya pribadi malas untuk membahasnya, sudah terlanjur hobby. Malas untuk melawan ego sendiri.

Bisa dibilang efek psikologis ngupil -mengupil ternyata merunut kepada konsep disonansi kognitif yang luas, misal pada saat eksekusi terakhir ritual ngupil-mengupil, kadang membuat orang menjadi disonan, antara mencicipi dulu ala master chef atau langsung menyentil upil jauh-jauh. Sebagai penutup dari saya, barangkali gara-gara upil pun orang bisa galau..

— catatan : tulisan ini saya copy dari blog saya yang lama, dalam rangka repost šŸ™‚

Advertisements
22 comments
  1. Gentole said:

    iya ini kayaknya termasuk disonansi kategori guilty pleasure. kayak dengerin cherry belle, merokok, makan indomie, minum teh botol, dll.

    • onkyreno said:

      Wah guilty pleasure ya, baru tau juga sih,, termasuk juga ritual onani, karena ada penyesalan dibalik kesenangan.. Haha tapi kalo minum teh botil salahnya dmna mas?

    • onkyreno said:

      Oh.. Haha
      *tercerahkan mas… šŸ˜€

  2. Ely Meyer said:

    heran ya kok masih bisa ada sambungannya ttg ngupil

    • ah, haha obsesi ini mbak el… šŸ˜€

      • Ely Meyer said:

        wow šŸ˜€

  3. JNYnita said:

    Pake tissue aja ngupilnya, amaaaan… šŸ™‚

    • tissue nya dimasukin semua gitu mbak :mrgreen: , kalo saya tetep pake jemari, kelingking lebih elegan hahaha

      • JNYnita said:

        itu kalau di rumah… hahaha!!!

  4. Jaman kelas 1 SMP saya pengupil berat, soalnya malas mendengarkan guru ngomong ngalor ngidul yang gak jelas. Lalu, saya pun dianggap sebagai pelajar “paling bodoh”.

    Nah loh…., emang ada hubungannya antara kemampuan otak dengan ngupil ?

    Ah…. mereka semua salah.

    • ah, kayaknya ada pak, justru kebalikannya mungkin ngupil juga meningkatkan sel2 motorik otak pak :mrgreen:

      • Kalau ada tulisan yang membahas “ngupil meningkatkan kinerja sel motorik otak”, keren banget tuh.

      • ah, ada pak nanti saya rangkumkan jadi satu tulisan šŸ™‚

  5. Erit07 said:

    Gara” upil,semuanya jadi serba salah!

    • haha saya udah ke tkp itu risetnya kayak2 maksa juga mas, salam kenal šŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: