Menyoal Ihwal Takut

Sebenarnya ini sekedarnya saja, menyoal masalah yang sederhana pula. Gegara saya sudah tidak tahan lagi akan nafsu ini untuk lekas menindak lanjut kolom komentar di postingan mas 9enthuk kemarin untuk dibuat bahan postingan pula, supaya gak setengah-setengah barangkali 🙂

Nah. Agama itu seringkali dipandang sebagai media penghubung antara Tuhan dan manusia. Sehingga pasti ritual ibadah yang kita jalankan selama ini semata-mata karena Tuhan, untuk memenuhi aturan-Nya sebagai bentuk bukti bahwa kita manusia yang benar beragama. Jadi begini, entah apa ada yang salah tentang pola pikir atau memang saya salah menimba ilmu sedari kecil, mendapat pendidikan agama yang keras dan kaku selama di sekolah maupun di TPA tempat saya dulu mengaji, seperti ketika kita masih seorang anak-anak yang sudah banyak sekali diberi mandat dengan hafal-menghafal berbagai macam do’a versi bahasa Arab. Atau juga sering kita menjadi korban doktrin tentang siksa kubur dan api neraka yang membuat kita berasa horror barangkali. Membuat anggapan bahwa agama itu sebagai hukum yang mengancam jika kalo kita khilaf berbuat salah supaya kita takut dan lekas beriman, itu boleh jadi.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:`Rabb kami ialah Allah` kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): `Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu`- (QS: Fushshilat Ayat: 30)

Karena dasarnya kita memang sudah takut, barangkali ketika kita disodori pertanyaan “Kenapa kita harus takut kepada Allah SWT?” mungkin kita mudah saja menjawab secara eksplisit, atau tidak perlu pula memberi jawaban, agak retoris, seperti pertanyaan yang bukan untuk dijawab, sudah jelas berdasar pemahaman yang sudah melekat lama dalam otak, menyoal alasan kenapa kita harus takut. Tinggal sorot balik saja dengan apa yang dulu sudah umum diajarkan di bangku sekolah atau dengan apa yang banyak kita dengar dari ustad-ustad di setiap ceramah.

Nah

menyoal perasaan takut kepada-Nya, ada sedikit kerancuan, maksud saya sadarkah kita bahwa ketika takut kepada-Nya berarti kita dalam posisi menjauhi-Nya,  ah apa ini asumsi saya saja yang sudah tak normal, manusiawi kan jika dalam keadaan takut akan sesuatu ihwal manusia malah cenderung bergerak menjauh atau menghindar, kalau pun ya terpaksa mendekat pasti dalam keadaan tertekan (sebab takut). Tapi bagaimana jika ternyata benar demikian.

Dalam keadaan takut boleh jadi kita mendefinisikan Tuhan sebagai Tuhan yang syadid al-`iqab, al-muntaqim (ganas dan kejam), bukan lagi Tuhan yang yang al-rahman al-rahim (ramah dan toleran). Bagaimana bisa kita dipaksa beriman dalam ketakutan. Sejatinya agama kan perkara hubungan antara Tuhan dan manusia, dan saya heran kenapa pula kita (dulu) diajarkan untuk selalu takut (menjauh) kepada Tuhan. Tentu saja perihal takut ketika masih anak-anak dan dewasa itu berbeda, ketakutan yang pertama adalah ketakutan semu, seperti anak-anak yang suka berimajinasi. Tapi jika ketakutan ini tumbuh sampai mereka dewasa barangkali ketakutan mereka saat masih anak-anak membuat mereka menjadi sosok dewasa yang rentan merasa takut dan resah pula kepada orang lain yang mempunyai keyakinan atau paham berbeda. Begitu kaku, keras, lalu gampang mengkafirkan.

Jadi, sebenarnya maksud saya sederhana saja. Sebaiknya (dulu) perlu dikurangi porsi atau kalo bisa dihapuskan saja tentang risalah azab neraka atau segala teror lainya dalam mendidik anak-anak yang masih nol ilmu agamanya. Begini, bukankah lebih baik kita lebih menekankan kepada sifat-sifat baik Tuhan, lebih kepada kecintaan agar kita senantiasa dekat dalam lindungan-Nya, bukankah lebih dewasa daripada kita menakut-nakuti – ini pengalaman ketika kecil. Agama itu kan selayaknya di-imani bukan karena beban ketakutan atau memandanganya sebagai aturan-aturan yang selalu menghukum para umat-Nya jika berbuat dosa. Mungkin ihwal ini yang perlu kita hayati lagi untuk beriman tanpa rasa takut dan menyadari kalo selama ini ternyata Tuhan tidak pernah kita cintai. Wassalam.

Advertisements
17 comments
  1. wallahu’alam, menurut saya hanya perlu porsi yang tepat saja mas, karena hal ini mesti seimbang disampaikan : antara “kabar gembira” dan “kabar sedih” nya.

  2. 9ethuk said:

    Hehmmm, masih dilanjut tho, hahahaha
    Yang saya pahami seperti ini, tentang rasa takut.
    Jika kita takut pada harimau, kita tentu akan berlari menjauh dari harimau untuk berlindung
    Jika saat jalan ada ular berbisa di depan kita, kita akan menghindar takut jika terkena gigitan.
    Jika kita jalan di jalan yang sepi, mungkin kita takut dan mengurngkan niat berjalan mencari jalan yang aman atau setidaknya banyak orang supaya aman.
    Ehmm intinya jika rasa takut itu kepada selain dzat Alloh maka kita akan cenderung menjauh/berlari/menghindar untuk mencari keamanan.

    Nah, bagaimana jika kita takut pada Alloh?
    Jika kita takut pada Alloh, justru kita harus mendekat pada Alloh? Jika kita takut pada Alloh justru harusnya memotivasi kita mendekat pada Alloh? Kenapa? Sebab yang memiliki tempat perlindungan Alloh juga, yang memiliki bumi dan segala isinya adalah Alloh swt, yang menggemgam nyawa kita adalah Alloh swt, dan satu-satunya tempat meminta ampun dan mencari keamanan dari ketakutan itu adalah kasih sayang Alloh swt.

    Kenapa kok takut sama Alloh?
    Inilah fungsi kontrol supaya tidak mudah berbuat maksiat, bayangkan jika setiap orang beranggapan Alloh itu Maha Pengasih Penyayang dan Pengampun saja tanpa beranggapan bahwa siksa Alloh pada kedzliman itu pedih. Maka akan banyak orang yang akan berbuat maksiat toh nanti akan dimaafkan Alloh, banyak orang yang akan meninggalkan sholat, tidak ada yang zakat, tidak ada yang sodakoh, tidak ada yang berbuat baik pada orang tua dengan alasan tar tar aja kalau mau mati kita tobat.

    dengan kita takut akan berbuat maksiat karena akan ada balasan atas maksiat itulah akan mencegah kita berbuat maksiat.
    Dengan kita takut akan adzab neraka setelah kita berbuat maksiat dan dzalim memotivasi kita berataubat dengan sungguh sungguh memohon ampun agar tidak dimasukkan ke neraka dan tidak diadzab Alloh swt.

    Semakin kita takut harusnya kita semakin mendekat pada Alloh, sebaba pada Allohlah tempat pengampunan dan tempat mencari perlindungan, tidak ada yang lain.

    Ehmm, semoga sedikit mencerahkan 🙂
    Baca bukunya yang kemarin itu ya… ketika kita bisa mengenal Alloh dengan baik, maka akan lebih mudah memahami rasa takut dan rahman-Nya Alloh swt

    • Menurut saya Allah tidak usah ditakuti. Dicintai saja.

      Beda loh, antara suami tidak selingkuh karena takuk istri atau tidak selingkuh karena mencintai keluaraga.

      Maaf, terlalu dangkal,

      • 9ethuk said:

        Oke deh, setuku pak, dalam satu sisi tetep 🙂

      • JNYnita said:

        Gak bs cuma cinta Mas… hubungan dengan Allah harus ada 3 komponen, CINTA (HUBB), TAKUT (KHAUF), dan HARAP (RAJA)
        Ada dasar ilmunya tersendiri ini Mas… bukunya ada, kajian juga banyak yang bahas.. bahas gini, gak boleh cuma pakai akal & logika…

      • Kalau saya punya prinsip “hidup hanya sekali, setelah itu mati. Sebaik baik maunisia yang bermanfaat buat orang lain, dan manfaat itu hanya mengharap ridlo nya….” itu masuk harap, cinta atau takut ?

        #tanya serius loh ya ini….

  3. hilal said:

    menurut saya, khauf & raja’ itu perlu seimbang… *gak nyambung*

  4. utie89 said:

    sekedar share..

    Aq sempat belajar bhs arab untuk al-quran.
    Saat itu ada penjelasan yang menarik hatiku, karena tak pernah terpikirkan sebelumnya.

    Tentang takut.
    Dalam al-quran, takut itu didefinisikan dalam 2 kata yang berbeda. Khouf dan …. *lupa* 😛

    yang jelas intinya sih, secara definisi, kedua arti itu sekilas sama, sama-sama berarti takut. Tapiii.. Takut yang pertama ditujukan untuk hal2 selain Alloh, sedangkan yang kedua ditujukan kepada Alloh.

    Yang membedakannya adalah, rasa takut pada selain Alloh itu akan membuat kita menjauhinya, sedangkan takut pada Alloh justru membuat kita makin mendekat.

    Afwan penjelasannya brantakan, karena itu udah 1 tahun lebih berselang, jd ingatannya agak2 kacau.

    Tapi untuk aq pribadi, uraian guru bhs arabku itu benar, setiap ditakut2in oleh hal2 yg berkaitan dengan Alloh, seperti neraka, azab, dll, yang ada dalam hatiku malah justru ingin semakin mendekat sama Alloh, semakin aq takut, semakin aq ingin mendekat.

    Rasanya ngga pernah tuh aq ngerasa begitu ketakutan sama neraka sehingga malah menjauhi Alloh.

    Jadi, sepakat dengan penjelasan mas gethuk di atas, “takut” itu mempunyai 2 versi yang berbeda. Dan sebaiknya memang seimbang antara “memberi peringatan” dan “memberi kabar gembira”.

    CMIIW
    (^,^)v

  5. genthuk said:

    Takut kalau tidak dicintai Allah, takut kalau tidak mendapatkan ridho Allah, Takut kalau Allah tidak mengakui kita sebagai hamba-Nya, Takut bila tidak termasuk orang yang beriman kepada-Nya.

  6. JNYnita said:

    Dalam hubungan kepada Allah, ada 3 hal yang harus dipunya dan juga harus seimbang: cinta, takut, dan harap

  7. @rangtalu, @JNYnita & @hilal
    barangkali iya, seperti penjelasan tentang surga dan neraka, kita yakin akan jaminan siksa neraka jika kita melanggar larangan agama (khauf), namun ketika tergelincir dosa dan maksiat kita akan lekas bertobat, dan yakin tobat kita pasti diterima (raja’), lalu diantara khauf dan raja’ tumbuhlah cinta.. baru ngeh 🙂

    Nah jadi keingat lagunya Alm. Chrisye, seandainya jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau bersujud kepada-Nya? semoga YA.. 🙂

    @lambangsarip
    setuju dengan analoginya pak 🙂
    #pengalaman ya pak 😀 #ups #seplaksendal

    @9ethuk & @utie89
    wah iya mas setidaknya saya mulai ngeh 🙂 barangkali seolah-olah –mungkin ini pemahaman yang agak semena-mena, tapi ada yang pernah menanggap demikian– Tuhan itu memang sengaja menjerumuskan kita untuk berdosa, maksud saya ketika kita begitu jelas tentang segala siksa dan larangan-Nya toh banyak juga manusia yang dengan sengaja melanggarnya, barangkali itu sebuah ujian juga untuk manusia (dengan jalan yang agak berbeda) sampai dimana iman kita ketika kita terlanjur tergelincir dosa, atau mungkin Tuhan sengaja memberi hidayah dibalik khilaf kita sebagai manusia yang terlanjur berdosa, kayak cerita preman insaf, sesat dulu baru beriman, sejauh yang saya persoalkan adalah ketakutan ini (ketakutan akan neraka) justru menimbulkan pemahaman yang berbeda lagi yang justru tidak dipahami manusia, yang bukannya mendekatkan manusia pada Tuhan tapi justru menjauhkan manusia kepada Tuhan-Nya, ingat kasus sampang sunni-syiah, karena pada dasarnya yakin kalo sesat=kafir=neraka lalu mereka takut dan resah, lalu timbul penyerangan kepada syiah. semoga saja tidak lagi..

    wah tapi terima kasih mas/mbak atas pencerahannya terhadap otak saya yang sedang agak sesat (bingung) ini, sebenarnya saya memang kurang referensi perkara buku dll. syukron 🙂

    @genthuk

    Takut kalau tidak dicintai Allah, takut kalau tidak mendapatkan ridho Allah, Takut kalau Allah tidak mengakui kita sebagai hamba-Nya, Takut bila tidak termasuk orang yang beriman kepada-Nya.

    no comment 😀

  8. Erit07 said:

    Walaupun saya Agama Buddha,tetapi saya mengerti tulisannya. .
    Ajaran yang baik. . .
    Hehe. .

  9. Baca posting ini entah kenapa koq saya jadi teringat lagunya Ahmad Dhani sama alm. Chrisye, …jika surga dan neraka, tak pernah ada…
    Salam,

  10. @Erit07
    semua agama itu baik-baik 🙂

    @Titik Asa
    sering mas 🙂

  11. Mungkin, gak bisa ngebedain mana itu kejam dan mana itu tegas.
    Kalau ada berkata jangan main di tepian nanti jatuh ke tebing, nah kalau sudah jatuh, siapa yang kejam ?

    • wah, kira-kira ada yang bisa bantu jawab ? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: