Sok Tahu Atau Sekedar Tahu

gambar ini diambil dari deviantart

Selalu tahu atau sok tahu seputar dunia kekinian sudah seperti indikasi bahwa seseorang itu masih konsisten untuk bersikap eksis di zaman yang terus berkembang ini. Entah kenapa pada era berkembang ini kita bisa begitu dimanjakan sekali oleh segala macam sumberΒ  yang menyediakan berbagai layanan berita aktual, seputar

dinamika manusia dan dunianya. Adakalanya kita manusia mahkluk yang paling berakal ini merasa sangat berterima kasih karena jarak sudah tak lagi menjadi masalah untuk bisa tahu kabar terkini tentang keadaan jauh di luar sana; saat dunia ini bukan lagi umpama daun kelor tapi sudah seperti layar monitor, ketika jarak hanya sebatas lipatan koneksi http yang terbalut serat optik atau sekedar jaringan data tanpa kabel.

Dengan akses yang sedemikian mudah itu kita manusia dipaksa melek sekali terhadap kabar isu-isu sosial, politik, hukum, kemanusiaan, yang kesemua sifatnya serba dinamik. Mendengar kabar penindasaan saudara seiman yang beribu-ribu mil jauhnya saja, kita begitu solidernya membela mati-matian, ya walaupun hanya berupa makian hujatan barangkali saja itu sudah cukup banyak membantu, ya semoga saja kita benar-benar bisa membantu, membantu dan membantu. Bukan manusia dewasa saja, segenap anak manusia pun ikut menghiraukan gencar isu timur tengah, berseru kerasΒ  “Allahu Akbar, Allahu Akbar” seolah mereka sedang berjihad. Atas nama Tuhan mereka anak manusia ini menjadi toleran dengan pembantaian saudara mereka yang seiman. Mereka bukan lagi seperti anak-anak, yang lazim polos ataupun banyak tertawa, tapi sudah seperti para vandal yang suka marah penuh kebencian.

Tentu saja yang jadi pertanyaan apakah anak manusia ini tahu betul apa-apa yang sedang terjadi? Takut saya anak-anak ini cuma sekedar tahu dari berita-berita di layar tv, ya dari sekedar tahu sampai benar-benar berubah sok tahu. Atau mungkin ada faktor lain? Membuat isu perang ini menjadi lebih menarik hasrat anak manusia ini ketimbang dunia bermain mereka sendiri, tapi saya katakan saja bahwa tidak ada perang nyata yang lebih menarik daripada perang pointblank. Lalu ulah siapa, apa ini memang ulah manusia dewasa yang dengan sengaja mendidik atau malah ikut meracuni pikiran polos para anak manusia ini dengan rasa kebencian, begitukah. Bukankah kebencian malah menimbulkan peperangan, perang itu karena sama-sama benci kan? Mengapa juga manusia yang sudah dewasa ini mendidik anak-anaknya dengan kebencian. Kalo begitu yang dewasa ini sama saja, sama polosnya dengan anak manusia, terlalu tahu atau sudah sok tahu sampai tak lagi mau bersikap dewasa. Mungkin terlalu bodoh kalo dibilang polos atau terlalu polos kalo dibilang bodoh, sama saja lah.

Tapi sekali lagi kita harus berterima kasih kepada media-media yang setia sekali memberi makan kita manusia awam ini dengan berbagai berita aktual sampai kita melek dengan yang namanya solidaritas. Bukan saya mau menganggap hal tersebut hal yang konyol atau malah ingin tertawa melihat solidaritas kita ini yang begitu banal. Tapi manusia ini kan sepertinya sudah dimudahkan untuk segala akses ilmu pengetahuan atau berita itu sendiri sehingga daridimudahkan kita menjadi begitu dimalaskan untuk mencari tahu secara faktual daripada sekedar menelan mentah berita-berita aktual. Ya mungkin setolol-tololnya manusia adalah jika dia bersikap seolah-olah mengetahui benar segala sesuatu yang dia sendiri hanya sekedar tahu atau malah tidak tahu sama sekali.

—-
Note : Manusia tempatnya khilaf, ini saya tulis setelah saya gagal paham soal posting kemarin, boleh jadi saya ini juga selalu sok tahu atau sekedar tahu.

Advertisements
29 comments
  1. kemajuan teknologi patut kita syukuri, soal konten berita di dalamnya kita juga harus lebih bijak untuk menyikapinya….

    • iya mas, kira-kira begitulah maksud saya πŸ™‚

  2. isi di media memang sebaiknya tidak diterima mentah-mentah …

    • Ely Meyer said:

      setuju banget Wong πŸ™‚

      • bener mbk el mas wong, lebih baik kita terlepas dari fanatisme yang sering dikoarkoarkan para aktivis agama tapi tetap memandang konflik disana itu sebagai konflik sospol dan kemanusiaan

  3. ~Ra said:

    Nggak cuma media aja. Informasi dari manapun juga (terutama yang tidak baik) mestinya nggak langsung dikunyah mentah. Diolah, dicarikan berita pembanding. πŸ™‚ Cek en ricek. Bener nggak si?

    • benar mbak pembanding itu perlu πŸ™‚

  4. Kadang menurunkan kebencian kepada anak 2 sesuatu yg tak disadari oleh orang dewasa . Apa lagi jika kita merasa dirugikan

  5. 'Ne said:

    lebih hati2 dan tidak mudah menelan berita yang ada, karena media pun bisa jadi tidak lengkap memberitakannya.. apalagi jika kita menerimanya pun tidak lengkap.. πŸ™‚

  6. @mbak evi
    iya mbak, mungkin si dewasa ini berbalut egoisme berlebih πŸ™‚

    @mbak Ne
    tapi barangkali itu juga mbak yang membuat kita malas, malas melengkapi berita yang ada, jadi nya ya gitu hehe πŸ™‚

  7. 9ethuk said:

    Intinya apa ya? Sory mungkin aku kurang nangkep.
    Sepenangkepanku belum ada kesimpulan jelas dari posting ini πŸ™‚

    Kalau bagi guwe, lebih bijak jika tidak mengeneralisasi suatu kesimpulan dari satu atau 2 kasus tanpa study yang jelas. Dan sebaliknya, tidak bisa mengkerucutkan/menjustifikasi suatu kejadian dari teori yang bersifat general.

    Terkait gaza, sudah banyak buku bertebaran dan sudah banyak sekali buku sejarah yang mengungkap dari titik nol hingga saat ini. Ulasan singkat (maaf) diatas atau di blog-blog hanya bersifat subjective (kecuali disebutkab sumber refernsi yang akurat). Jadi siapa saja berhak berpendapat. tapi tetap saja, pendapat itu tidak bisa mengubah aktual kebenaran yang terjadi di gaza.

    Jujur, saya cukup mengikuti perkembangan gaza sejak SMA, sudah lupa berapa banyak buku dan artikel yang kubaca. Gaza, sebuah lorong selebar 10 KM dan sepanjang 40 km (tidak ada setenga luas Jakarta dengan kepadatan penduduk terpadat didunia yang hampir 4000jiwa/km2) adalah penjajahan yang nyata. Palestina butuh kemerdekaan, palestina (gaza dan tepi barat) butuh bersatu. Mereka butuh bantuan seluruh negera di dunia untuk mengakui kedaulatan mereka, sama seperti Indonesia ditahun 45 yang butuh pengakuan negara lain untuk bisa dinyatakan sebagai bangsa merdeka. Guwe pribadi mendukung kemerdekaan palestina. -sebagai blogger, pendapat ini juga subjective πŸ™‚ –

    happy bloging……

    • hehe maaf saya memang inkonsisten mas, memang tidak ada kesimpulan jelas, saya hanya ingin lepas dari opini publik yang lebih condong serampangan mendukung Palestina hanya karena solidaritas fanatisme agama saja, maksud saya dukungan yang saya lihat sekarang tidak berlandaskan pada pengetahuan yang cukup tentang wacana yang ada, karena sudah jelas konflik disana gak lepas dari urusan sospol dan kemanusiaan, bagi warga israel maupun palestin pembunuhan terhadap warga sipil itu tetap tidak dibenarkan.

      Tapi terkaiti masalah penjajahan palestina orang-orang Yahudi malah menganggap tanah palestina ini sebagai tanah airnya berdasarkan (setidak-tidaknya) tiga hal:
      1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah tersebut kepada Ibrahim
      2. Orang-orang Yahudi tetap hidup di sana dan merawat tanahnya
      3. PBB memberi kedaulatan penuh kepada Yahudi di Palestin

      saya sendiri memang tidak begitu tahu (takut sok tahu barangkali), karena sebelumnya memang tidak begitu mengikuti, saya mau baru tau lebih soal palestina semenjak isu ini menyeruak lagi, nelat bener hehe cuma kemarin nemu di wiki http://en.wikipedia.org/wiki/Two-state_solution , tapi masalahnya keduanya sama-sama ngotot, saya pilih mendukung solusi dua negara, lebih baik legowo sama-sama lah πŸ™‚

      iya mas pada dasarnya blogger menulis memang untuk berpendapat mas, happy blogging πŸ˜€

      • 9ethuk said:

        Hehehe syantai aja, tiap orang berhak berpendapat πŸ™‚ asal ada rujukan jelas no problemo. Tapi jika berbicara tentang sejarah, saran guwe jangan ambil dari literatur umum, seperti sejarah indonesia saja, yang jujur sampai sekarang guwe bingung, mana yang benar apakah sesuai buku sejarah atau buku2 khusus yang mengulas lebih detail tapi bertolak belakang dengan materai sejarah saat sekolah πŸ™‚
        happy blogging

      • wah iya mas, terima kasih sarannya, barangkali pas sekolah saya memang males kalo soal sejarah, tapi sekarang sedikit banyak tau sejarah ya dari googling πŸ˜€

        happy blogging

  8. Terkadang kita juga tidak boleh percaya begitu saja dengan pemberitaan suatu media. Kadang pemberitaan dari media itu juga bisa salah.

    • media juga manusia, manusiawi begitu πŸ˜‰

  9. kalo menurut saya mestinya dengan akses media dan informasi yang begitu mudah orang seharusnya jadi lebih bertanggung jawab dan ga sekedar sok tahu. Tapi entahlah, mungkin memang banyak orang yang begitu terima info dari satu sumber langsung meyakini sebagai kebenaran dan langsung menyebarkannya meskipun dia sendiri belom sepenuhnya tahu…

    • iya mas, salah dan benar sudah terletak pada pandamgan masyarakat, bukan lagi kepada akal manusia.. hehe

  10. kenz said:

    saya curiga, tulisan ini sepertinya masuk dlm konspirasi Yahudi dan agenda zionisme.. #soktau #dikemplang #kebanyakanbacasabili

    btw, baca ini jd ingat konsep “masyarakat yg diam” Marquez itu.

  11. freemason ini mas πŸ˜€
    #mengarangbebas

    aduh, saya terlalu awam, gak tau soal marquez mas #gagalnemudiwiki πŸ˜€

    *wah akhirnya dikomen blogger senior

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: