Last.fm : Menolak Pembodohan Massal Musik Populer!

Disadari atau tidak selera musik generasi muda kita sekarang terlalu mengekor terhadap musik populer. Jenis musik di pasaran pun hampir seragam, tak jauh-jauh dari Pop Melayu, Korean Pop, atau Rnb/Hip-hop. Akibatnya mereka pun sulit menerima jenis/warna musik lain selain yang sedang trend saat ini. Andai saya presiden, mungkin saya akan bilang “Saya prihatin!” sembari tertawa miris tanpa bisa berbuat banyak, menjadi korban kapitalisme industri musik populer.

Melihat kondisi ini saya seperti sedikit mendapat pencerahan sampai tulisan ini ditulis. Semacam ilham, dorongan spritual atau sejenis wahyu atau apalah itu. Intinya terbesit, mengapa tidak dengan last.fm? Situs jejaring musik, mungkin banyak sebagian orang sudah tidak asing lagi. Yup, bagi yang belum tahu dan ini bagi yang belum tau lho ya, oke last.fm! Sedikit penjelasan, last.fm adalah sebuah sosial media yang populer dijadikan ajang pamer lagu apa saja yang kita dengarkan. Mungkin bisa nenjadi solusi sebagai mediasi alternatif menambah perpustakaan musik kita dari yang biasa menjadi yang aneh-aneh tanpa harus mengekor atau membebek musik populer.

Anggapan saya Last.fm itu seperti sarang para hipster dan sekelompok geek. Memang banyak beberapa tulisan menyindir sadis perilaku elitis para hipster ini, mereka benci mayoritas dan sok paling keren sendiri. Tapi cobalah dengan bijak untuk mengambil sisi positif. Adakalanya seperti yang terjadi sekarang, kita bisa memanfaatkan jejaring ini untuk lepas dari arus musik populer yang kian hari semakin menjenuhkan saja.

Nah, musik-musik di last.fm sendiri memang tampak anti mainstream jika dibandingkan dengan musik yang didengar secara mayoritas (=musik populer) khususnya di Indonesia. Menurut penerawangan saya perilaku masyarakat Indonesia suka sekali ikut-ikutan mengkomsumsi lagu-lagu yang lagi Hip di Amerika, itupun hanya amerika yang menjadi tolak ukur mereka. Lucu, obsesi remaja labil kebanyakan begini: mereka belum berlabel gaul kalo belum punya (baca;mengunduh) lagu-lagu bernuansa rnb/hip-hop Amerika yang biasa diputer di mall-mall, tv atau radio-radio. Belum lagi invasi gelombang K-Pop hingga menjamur inovator boyband/gilband Indonesia yang meracuni acara-acara televisi dari pagi sampai siang hari. Kita dipaksa menikmati keseharian para boyband/girlband yang unjuk skill lipsync di depan televisi.

Hikmahnya adalah Amerika dan Korea akhirnya sama-sama menjadi Imam Besar musik di Indonesia, apa yang lagi trend disana maka akan menjadi trend juga disini, menjamur begitu saja.

Oke kembali lagi ke last.fm, disini musik tampak begitu beragam dan tersegmentasi, tanpa melulu harus musik populer. Mereka (orang-orang last.fm) tersirat seperti membuat koloni berdasar genre musik tertentu, ehm maksudnya gini secara otomatis last.fm mengumpulkan (saling mengenalkan) para user yang memiliki selera musik yang sama berdasarkan lagi-lagu yang kita dengarkan. Nah dari situ kita dapat saling bertukar lagu sesuai kultur musik yang kita anut tanpa intimidasi musik populer.

Orientasi ini mungkin bisa merubah perspektif seorang awam untuk sedikit melirik musik-musik yang trending di last.fm semisal Oasis, Radiohead, Blur, Arctics Monkeys, Beady Eye, Kasabian, The Kinks, The Libertines, Franz Ferdinand, dll. Atau (kalo saya) Australian Rock, seperti Wolfmother, AC/DC, The Vines, Jet, dll. hehe. Ya semua bebas tergantung taste dan eksplorasi kita masing-masing.

Ya itu tadi sedikit review last.fm, maaf kalo carut marut hehe, Oke kesimpulanya begini, kita sebagai generasi muda sebaiknya jangan lagi terlalu hanyut dalam hiporia musik populer. Lantas apa salahnya mendengarkan musik populer yang hampir seragam? Bukankah yang penting semua orang terhibur? Ya, tidak salah jika semua terhibur, akan tetapi perkembangan kualitas musik generasi muda semakin merosot. Bahaya, kita menjadi ladang emas komoditas industri musik nasional, tampak seperti pembodohan masal oleh para major label tanpa ada musik yang beragam. Kita menjadi pasif terhadap musik populer. Masih ingat kah era kangen band sampai st12 yang pernah besar dengan pop melayu-nya hingga hadir Korean Pop dengan boyband/girlband nya, dan lalu apalagi? Yah kita memang pasif..!!!

Sebagai renungan sebaiknya kita lebih menelaah lagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam-dalam. Belajarlah bagaimana sebuah keragaman kultur budaya yang melimpah ruah ini terbingkai elok dalam satu kesatuan. Bukankah beragam lebih baik daripada seragam?

@onkyreno

Advertisements
1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: